Antara Jempol, SMS dan Energi
February 11, 2009
Pernahkan kita berpikir, seberapa sering jempol/ ibu jari kita gunakan untuk mengetik pesan singkat? Sudah berapa banyak kita mengetik huruf untuk menulis pesan singkat atau short message service (SMS)? Sudah berapa ribu karakter yang sudah diketik untuk menyampaikan berita, mengirim undangan atau sekedar menyapa dan menanyakan kabar? Pertanyaan teresbut terbersit di benak saya. Lalu pertanyaan menjalar kepada pertanyaan lain, seberapa besar energi yang digunakan untuk mengirim sebuah pesan singkat? Mungkin ini suatu “kenakalan” yang muncul dari benak saya dan tidak banyak orang yang memikirkannya. Tapi mungkin perlu dipikirkan sejenak, jika kita perhatikan, ketika mengirim pesan singkat dari handphone, tentunya membutuhkan energi tentunya dari handphone itu sendiri. Jika dalam baterai handphone tidak ada energi listrik, tentunya pesan singkat tidak akan terkirim karena handphone tidak menyala. Tapi lebih jauh lagi, kita tentunya tidak bisa mengirimkan pesan tersebut jika mesin di operator seluler tidak menyala, jika satelit yang mengirimkan pesan tidak menyala, jika mesin di menara pemancar tidak menyala dan mesin-mesin yang lainnya. Jadi, sebenarnya untuk mengirimkan sebuah pesan singkat saja, diperlukan bebagai perangkat yang harus menyala. Dan mesin-mesin tersebut menggunakan listrik untuk energinya. Listrik didapat dari pembangkit tenaga listrik yang ada. Begitu banyak energi (listrik) yang diperlukan untuk hal yang terlihat kecil tersebut.
Jadi, jika kita mengirimkan beberapa pesan singkat, maka energi yang diperlukan akan dikalikan sejumlah pesan yang dikirim. Hal ini sebenarnya semakin rumit dan memprihatinkan karena sekarang operator seluler memnberikan banyak kemudahan dalam layanan pesan singkat. Sekarng ini operator memasang tarif yang murah untuk pengiriman pesan singkat. Ada yang memberikan layanan gratis mengirim atau yang menghitung biaya lewat banyaknya karakter yang diketik dan dikirimkan. Ini adalah keprihatinan yang ada terhadap penggunaan energi. Untuk contoh biaya per karakter, jika kita hanya mengirimkan satu karakter pesan, maka energi yang ada terkesan “terbuang percuma”, dan itu hanya untuk mengirimkan satu karakter huruf. Terlepas dari apakah pesan satu karakter itu penting atau tidak. Padahal untuk mendapatkan energi tersebut terdapat proses yang cukup rumit dan berat. Bagaimanakah sikap kita terhadap hal ini?
Kenyataan ini memang sulit, karena ini adalah anomali yang harus dihadapi dalam masa krisis energi. Di satu sisi kemudahan didapat dengan tarif yang murah, tetapi dibalik itu terdapat “pemborosan” energi. Bagaimana kepedulian kita terhadap hal ini? Tentunya kita masih bisa berusaha untuk mengurangi “pemborosan energi” tersebut. Hal yang bisa kita lakukan antara lain, bersikap bijak dalam penggunaan pulsa seluler. Kita usahakan untuk mengurangi penggunaan pulsa untuk hal-hal yang tidak terlalu penting atau yang tidak terlalu berguna. Dengan sikap bijak ini semoga kita dapat membantu penghematan energi di negeri ini. Dan semoga dari hal kecil yang dilakukan tadi, jika dilakukan secara baik dan berkala akan membawa kebaikan untuk negeri ini dalam hal penghematan energi. Amin.
Entry Filed under: umum. Tags: hemat energi, ibu jari, jempol, karakter, operator, pemborosan energi, pesan singkat, satelit, seluler, short message service, sms, tarif sms.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed














1.
guskar | April 17, 2009 at 6:41 am
apalagi kalo energi tadi disangkutpautkan dengan satuan waktu ya. berapa banyak waktu yg terbuang percuma demi sms-an? bisa jd kalkulasi pemborosan itu semakin menjadi2 besarnya.
mulai dari kita yuk… memanfaatkan energi dan waktu untuk membangun negeri
2.
edofaqeeh | November 27, 2009 at 2:39 pm
yup…bener tuh…