Suatu ketika pak kyai shalat di masjid. Di situ pak Kyai melihat sajadah yang diperuntukkan kepada imam arahnya agak melenceng ke kanan (tidak lurus ke arah barat). Selanjutnya pak Kyai menanyakan perihal sajadah tersebut kepada pengurus masjid, karena seyogyangya arah kiblat di Indonesia adalah ke arah barat. Sang pengurus masjid yang ditanya menjawab bahwa sebelumnya ada seorang ‘alim yang mengunjungi masjid tersebut dan mengatakan bahwa arah kiblat di masjid tersebut kurang benar.beliau menganjurkan untuk menggeser arah kiblatnya agak ke arah kanan (utara). Pertimbangan beliau adalah bahwa jika dilihat di peta, maka jika ditarik garis lurus ke arah barat, maka tidak tepat mengarah ke Ka’bah (Mekkah), sehingga perlu adanya sedikit penggeseran pada arah kiblat. Atas jawaban pengurus masjid tersebut, pak Kyai mengajukan pendapatnya : “kalau memang begitu adanya, anda harus membuktikan kebenaran arah tersebut. Untuk membuktikannya anda harus memastikannya dari Mekkah langsung dan mengarahkannya ke Indonesia. Bisa jadi anda menggunakan tali untuk mengecek kebenaran/ kelurusan arah kiblat tersebut dengan menggunakan tali yang ditarik lurus dari Ka’bah ke Indonesia”. begitulah jawaban pak Kyai. Mendengar penjelasan tersebut, sang pengurus masjid akhirnya kembali mengarahkan sajadah ke arah barat.

Pada kasus ini jarak sangat menjadi poin penting. Jika arah kiblat di Indonesia kita geser beberapa derajat sedikit ke kanan, maka secara logika ketika kita tarik garis lurus -mungkin bisa kita misalkan menggunakan tali- maka derajat pergeseran tersebut akan terakumulasi seiring dengan jauhnya jarak Indonesia-Arab Saudi. Dan kemungkinan besar arah yang didapat melenceng jauh dari yang dituju-dalam hal ini adalah Ka’bah-. Dengan argument seperti ini maka pergeseran arah kiblat ini akan berpengaruh terhadap kiblat itu sendiri.

Dalam Matematika (dalam hal ini dikhususkan bidang Matematika Komputasi/ Informatika), permasalahan seperti ini masuk dalam pembahasan ilmu Komputasi Sains / Scientific Computing. Ilmu ini dipergunakan untuk menganalisa keseluruhan perhitungan matematis dalam komputer. Dalam contoh nyata, Komputasi Sains salah satunya dipergunakan untuk menentukan arah satelit atau pesawat ruang angkasa yang akan dikirimkan ke luar angkasa. Sebagai contoh, suatu pesawat yang akan dikirimakan ke Bulan, perhitungan arahnya akan dihitung sampai beratus-ratus angka di belakang koma. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi arah yang benar. Sama kasusnya dengan penentuan arah kiblat diatas, jika arah yang akan diambil terdapat sedikit pergeseran dari arah yang benar, maka dengan jauhnya jarak yang dituju, derajat pergeseran yang terjadi akan terakumulasi sehingga arah yang dituju akan bergeser jauh dari sasaran. Kasus penggeseran kiblat diatas merupakan penjelmaan dari contoh pengiriman satelit ini.

Jadi, secara tidak langsung, Pak Kyai sudah menggunakan teori Komputasi Sains dalam kasus peggeseran arah kiblat. Ta’alallahu ‘ala ‘adzimi ilmihi. Wallahu a’lam

Advertisements
Comments
  1. pakarfisika says:

    dari Indonesia: bergeser 1 derajat, bisa jadi melencengnya 100 km dari ka’bah, masya Allah…

  2. edofaqeeh says:

    ya, begitulah pak..
    kemiringan sedikit akan berakibat error yang tinggi seiring dengan jarak yang besar..

    setidaknya kita tetap mengikuti menghadap ke arah barat, sesuai dengan fatwa MUI yang telah keluar..
    semoga ibadah (shalat) kita semua bisa dierima oleh Allah swt.
    amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s