1.Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

2.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

3.Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

4.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

5.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Ayat di atas adalah surat al-Qadr yang menceritakan tentang adanya Lailatul Qadr. Sudah umum di kalangan umat Islam bahwa dalam bulan Ramadhan Allah menyediakan satu malam yang disebut Lailatul Qadr. Malam yang dijelaskan dalam al-Qur’an lebih utama daripada seribu bulan. Dan memang lailatul qadar hanya ada dalam bulan Ramadhan dan itu hanya terjadi sekali dalam satu bulan saja. Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan keutamaan lailatul qadar dalam hadis beliau. Tapi tujuan utama saya menulis – dan tentunya disesuaikan dengan judul diatas – adalah karena lailatul qadar terjadi hanya dalam bulan ramadhan tetapi kita tidak diberi tahu kapan tepatnya itu terjadi. Yang ada hanyalah petunjuk-petunjuk yang tersurat dalam nash. Diantara clue (petunjuk) dari lailatul qadar sesuai dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya : bahwasanya lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir pada malam tanggal ganjil.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Clue diatas adalah bebapa petunjuk yang memperjelas terjadinya lailatul qadar. Sekarang kita membicarakan probabilitasnya. Pertama, lailatul qadar terjadi hanya pada bulan ramadhan. Anggaplah bulan ramadhan genap 30 hari, sehingga lailatul qadar terjadi pada salah satu dari 30 malam tersebut. Jadi kita nyatakan probabilitasnya adalah 1/30 atau 0.0333 untuk setiap malam dalam bulan ramadhan. Ini merupakan distribusi yang uniform/ seragam tanpa ada faktor lain. Dan dengan asumsi ini juga saya bisa berkesimpulan bahwa lailatul qadar bisa/ mungkin terjadi di malam ke berapa pun karena dalam nash baik al-Qur’an maupun Hadis tidak menyebutkan secara pasti kapan terjadinya. Kedua, dengan adanya hadis yang menyebutkan bahwa lailatul qadar terjadi (saya lebih bisa menyebutnya lebih sering terjadi ) pada 10 hari terakhir pada bulan ramadhan, maka dengan adanya asumsi ini menjadikan distribusi probabilitasnya tidak normal. Distribusi uniform terjadi jika kemungkinan-kemungkinan yang ada memiliki nilai probabilitas yang merata tidak berbeda-beda. Dengan adanya asumsi 10 hari terakhir menjadikan probabilitas untuk 10 malam terakhir bulan ramadhan menjadi lebih besar dan tidak lagi 1/30. Dan karena perubahan ini juga menjadikan distribusi probabilitas dari malam-malam lainnya/ 20 malam pertama berubah tidak lagi 1/30 lagi. Ketiga, Nabi Muhammad menyebutkan petunjuk lain bahwa lailatul qadar terjadi pada malam-malam tanggal ganjil. Asusmsi ini juga kembali merubah distribusi probabilitas bagi 20 hari pertama.

Clue Lain

Sebenarnya ada clue lain yang menyebutkan bahwa lailatul qadar terjadi pada 7 malam terakhir pada bulan ramadhan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> tapi hal ini tidak menjadi masalah karena intinya Allah SWT tidak menyebutkan waktu yang pasti terjadinya lailatul qadar. Sebagai hikmahnya, ummat Islam yang ingin mendapatkan lailatul qadar dituntut untuk beribadah se-rajin mungkin di sepanjang bulan ramadhan untuk mendapatkan lailatul qadar. Dan pilihan ada pada masing-masing orang, apakah ia ingin berburu lailatul qadar hanya pada 10 atau 7 malam terakhir ataupun sepanjang bulan ramadhan.

Kesimpulan.

Dengan asumsi awal, saya berkeyakinan bahwa tidak selamanya lailatul qadar terjadi pada 10 malam terakhir bulan ramadhan – walaupun terdapat beberapa nash yang menyebutkan clue yang menunjukkan adanya pada 10 malam terakhir. Saya beralasan karena tentunya Allah SWT Maha Pengasih serta Maha Penyayang, sehingga Allah akan menurunkan lailatul qadar sesuai dengan kehendakNya, baik itu di awal, di tengah ataupun di akhir ramadhan, sehingga bagi hambaNya yang beribadah dengan rajin dalam satu bulan ramadhan penuh, niscaya ia akan mendapatkan lailatul qadar.

Sedikit saran juga, jika kita ingin mendapatkan lailatul qadar secara “otomatis”, rajin-rajinlah beribadah sepanjang bulan ramadhan, entah itu dengan tadarus Al-Qur’an, dzikir ataupun lainnya. Cara termudah adalah dengan melaksanakan shalat tarawih tanpa putus. Karena dengan kita melaksanakannya tanpa putus selama satu bulan, insya Allah – baik dirasa atau tidak, disengaja atau tidak – kita mendapatkan lailatul qadar pada salah satu malam dalam bulan ramadhan tersebut.

Wallahu a’lam bi al-Shawab


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> صحيح البخاري[ جزء 2 -صفحة 709 ]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر )

<!–[if !supportFootnotes]–>


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>صحيح البخاري[ جزء 1 -صفحة 280 ]

فقال ( من كان اعتكف مع النبي صلى الله عليه وسلم فليرجع فإني أريت ليلة القدر وإني نسيتها وإنها في العشر الأواخر وفي وتر وإني رأيت كأني أسجد في طين وماء )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s