Kalau dipikir-pikir, seringkali kita-kita ini menyukai yang gratis atau gratisan. biasanya orang banyak suka mendapat sesutau yang gratisan. misalnya sampel produk gratis, gratis pulsa, minuman gratis, makan gratis dan gratisan-gratisan lain yang banyak jenisnya. Tebakan saya, sangatlah jarang seseorang yang menolak untuk menerima sesuatu yang diberikan secara gratis. Tabiat ini seakan sangatlah melekat dalam jiwa orang-orang. Tabiat ini menyatakan seseorang yang senang menerima sesuatu yang didapat secara Cuma-Cuma tanpa ada usaha atau usaha yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Semua yang diberikan secara gratis itu rela diterima karena memberikan keseenangan ataupun manfaat.

Bagi si pemberi, sebenarnya ia tidak memberikannya secara Cuma-Cuma, tetapi tentunya ada sesuatu yang bisa ia dapatkan dari pemberian itu. Sebagai contoh, suatu perusahaan memberikan suatu produk secara gratis, dengan harapan ia dapat menambah jumlah customernya. Atau seorang teman yang mentraktir temannya pada saat ia mendapatkan suatu rezeki, ia mengharapkan doa dari para temannya itu dan sebagainya.

Tetapi jika dibalik posisinya, apakah pernah terpikir oleh kita untuk memberikan sesuatu secara Cuma-Cuma? Tanpa mengharapka balasan? Contoh yang paling kongkrit adalah pernahkah atau seringkah terbersit di kepala kita untuk memberikan sumbangan untuk saudara kita dengan Cuma-Cuma ataupun sukarela. Hendaknya ini menjadi bahan pikiran kita, karena selama ini kita selalu ada dalam posisi ‘tangan dibawah’ atau orang yang menerima. Kita patut menanyakan kepada diri kita, seberapa sering kita memposisikan diri sebagai ‘tangan yang diatas’ atau orang yang memberi.

Jika menilik dari suatu hadis Nabi Muhammad SAW; “Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah”. Banyak dari kita tentunya mengetahui makna dari hadis itu, bahwa tangan yang diatas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang menerima. Dari hadis itu juga, kita tau bahwa orang yang menerima itu lebih baik, sedangkan orang yang menerima itu tidak lebih baik, atau bisa diartikan orang yang memberi itu memiliki derajat yang tinggi dan orang yang menerima itu memiliki derajat yang lebih rendah. Akankah kita terus menjadi orang yang senang menerima gratisan, menerima pemberian, orang yang berada pada posisi ‘tangan dibawah’ yang memiliki derajat yang lebih rendah? Kapankah kita bisa beranjak kepada posisi ‘tangan diatas’, memiliki derajat yang lebih tinggi sebagai orang yang memberi? Tentunya kita ini patut kita renungkan dalam pikiran kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s