Risih

Posted: July 20, 2010 in Bahasa
Tags: , , , , , ,
“ngeh” , “teken”, “keukeuh”
aaargghh… saya risih dan malas membaca kata-kata itu di media..!
karena kata-kata itu dapat merusak bahasa yang sebenarnya.
kata-kata itu semakin banyak muncul di media (khususnya media cetak).
sekedar tau,
kata “ngeh” memiliki arti “sadar” atau “menyadari”
kata “teken’ diartikan “menandatangani”
dan kata “keukeuh” – yg saya tau ini berasal dari bahasa sunda – diartikan
“bersikeras” “bertahan” atau “menahan”.
mengapa saya risih? karena kata-kata itu bukan kata yang benar yang seyogyanya
digunakan dalam penyajian di media. kata-kata tersebut merupakan kata-kata
percakapan sehari-hari yang bukan merupakan kata yang baik dan benar, dan seyogyanya
tidak digunkan oleh media – yang notabenenya menyajikan berita untuk khalayak umum
dan (meminjam istilah ahli bahasa Indonesia), media merupakan salah satu guru dalam
berbahasa yang baik dan benar – . tapi karena bahasa tersebut sudah biasa digunakan
dalam percakapan setiap hari, para awak media kemudian ‘latah’ dan menggunakannya
dalam penyajian berita.
mengingat posisi media yang tersebut diatas, khalayak umum (baca: pembaca media)
akan menganggap itu boleh dan apa lacur? bahasa yang baik dan benar tidak lagi
digunakan – bahkan dikenal – oleh orang-orang karena mereka banyak disuguhi bahasa-
bahasa tersebut.
kesalahan ini sebenarnya sudah ada sejak lama. saya ambil contoh -mengutip dari buku
“Dari Katabelece sampai Kakus”-, bahasa “mengentaskan kemiskinan” sekarang ini sudah
menjadi bahasa yang biasa digunakan. tapi sebenarnya kata ini adalah kata yang
salah. apa yang salah, karena kata “mengentaskan kemiskinan” akan sama artinya
dengan “menghibur kesedihan”. bukankah artinya menjadi rancu? seharusnya yang
digunakan adalah “mengentaskan orang miskin” sehingga jika dipadukan dengan contoh
tadi bisa berarti “menghibur orang yang bersedih”. mengapa kata yang salah tersebut
diterima saja oleh masyarakat? disini media-lah yang berperan. media yang awalnya
memunculkan ‘kata yang salah’ tersebut, dan dikarenakan penyajian yang berulang-
ulang setiap waktu, orang-orang menjadi maklum dan menganggap (kesalahan) itu
sebagai hal biasa, dan kesalahan itu menjadi dimaklumi.
fenomena “kesalahan yang diulang” ini sering terjadi di masyarakat. karena kesalahan
itu sudah sering didegar, akhirnya dimaklumi dan dianggap bukan kesalahan. ini
sesuai dengan pepatah “oleh bisa karena biasa” ; (kesalahan tersebut) bisa dianggap
bukan salah karena sudah biasa disajikan setiap hari.
bagaimana pendapat anda???
Ta’alallahu biadzimihi wa ‘ilmihi.

“ngeh” , “teken”, “keukeuh” aaargghh… saya risih dan malas membaca kata-kata itu di media..!karena kata-kata itu dapat merusak bahasa yang sebenarnya. kata-kata itu semakin banyak muncul di media (khususnya media cetak). sekedar tau, kata “ngeh” memiliki arti “sadar” atau “menyadari” kata “teken’ diartikan “menandatangani” dan kata “keukeuh” – yg saya tau ini berasal dari bahasa sunda – diartikan
“bersikeras” “bertahan” atau “menahan”.
mengapa saya risih? karena kata-kata itu bukan kata yang benar yang seyogyanya
digunakan dalam penyajian di media. kata-kata tersebut merupakan kata-kata
percakapan sehari-hari yang bukan merupakan kata yang baik dan benar, dan seyogyanya
tidak digunkan oleh media – yang notabenenya menyajikan berita untuk khalayak umum
dan (meminjam istilah ahli bahasa Indonesia), media merupakan salah satu guru dalam
berbahasa yang baik dan benar – . tapi karena bahasa tersebut sudah biasa digunakan
dalam percakapan setiap hari, para awak media kemudian ‘latah’ dan menggunakannya
dalam penyajian berita. mengingat posisi media yang tersebut diatas, khalayak umum (baca: pembaca media)
akan menganggap itu boleh dan apa lacur? bahasa yang baik dan benar tidak lagi
digunakan – bahkan dikenal – oleh orang-orang karena mereka banyak disuguhi bahasa-
bahasa tersebut. kesalahan ini sebenarnya sudah ada sejak lama. saya ambil contoh -mengutip dari buku
“Dari Katabelece sampai Kakus”-, bahasa “mengentaskan kemiskinan” sekarang ini sudah
menjadi bahasa yang biasa digunakan. tapi sebenarnya kata ini adalah kata yang
salah. apa yang salah, karena kata “mengentaskan kemiskinan” akan sama artinya
dengan “menghibur kesedihan”. bukankah artinya menjadi rancu? seharusnya yang
digunakan adalah “mengentaskan orang miskin” sehingga jika dipadukan dengan contoh
tadi bisa berarti “menghibur orang yang bersedih”. mengapa kata yang salah tersebut
diterima saja oleh masyarakat? disini media-lah yang berperan. media yang awalnya
memunculkan ‘kata yang salah’ tersebut, dan dikarenakan penyajian yang berulang-
ulang setiap waktu, orang-orang menjadi maklum dan menganggap (kesalahan) itu
sebagai hal biasa, dan kesalahan itu menjadi dimaklumi.   fenomena “kesalahan yang diulang” ini sering terjadi di masyarakat. karena kesalahan
itu sudah sering didegar, akhirnya dimaklumi dan dianggap bukan kesalahan. ini
sesuai dengan pepatah “oleh bisa karena biasa” ; (kesalahan tersebut) bisa dianggap
bukan salah karena sudah biasa disajikan setiap hari.bagaimana pendapat anda???
Ta’alallahu biadzimihi wa ‘ilmihi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s