WOMAN OF THE STREET

Posted: May 22, 2011 in Uncategorized

dari http://on.fb.me/eXuepa

untuk para perempuan. atas nama kelembutan dan kegigihan…

agar mereka tetap tangguh dalam hidupnya, sebagai perempuan…

Adopted from “Secangkir Teh Hangat Pasar Modal” by Ubaidillah Nugraha

Untuk Kanya nun jauh disana…

Belakangan ini, aku merenungi lagi hubungan kita di masa lalu. Aku teringat sewaktu melepas kau pergi. Kenyataan yang tidak kita kehendaki. Namun, yang kuingat saat itu hanya Beniqno Aquino (Ninoy). Ia bicara lantang di depan pubnlik Boston, sebelum memutuskana ke Manila, sambil mempeprkenalkan Corry, begitu perempuan itu dipanggil, sebagai mitra terhormat dengan berkata “Anda tidak perlu meremukkan perempuan untuk membangun seorang laki-laki!” Ninoy akhirnya kita kenang dalam sejarah sebagai martir demokrasi Filipina. Dan, Cory, demi menuntut keadilan atas terbunuhnya sang suami muncul sebagai pemimpin bangsa Filipina dengan dukungan segenap masyarakat. “It’s better to light the candle than to curse the darkness,” jawab Cory atas pertanyaan wartawan BBC tentang perlu tidaknya dia menuntut rezim Marcos atas kematian sang suami. “Lebih baik saya melihat kedepan, memakmurkan bangsa ini, dan meninggalkan benih-benih dendam to forgive not to forget,” ujarnya lirih. Itulah perempuan. Sekali perempuan tetap perempuan, meskipun ia seorang presiden.

Begitulah Kanya. Aku hanya ingin agar kamu meraih impian yang masih tersimpan di dalam benakmu selama ini dan belum terwujud, untuk melihat dunia lain, dan kembali menjadi “wanita” yang sebenarnya, yaitu wanita yang menurut John Stuart Mill, menjadi subjek (subjection of woman). Disini, kaummu, masih seperti kata Mill, adalah budak, meskipun yang paling disayangi. Banyak ketidakadilan yang menimpanya. Ada Kartini yang diancam mati, padahal Kartini yang dulu itu justru diangap sebagai pembawa terang di dalam kegelapan yang melanda. Kasus pemerkosaan massal terjadi di depan mata. Setiap kali terjadi kekerasan, yang selalu menjadi korban.

Menjadi calon pemimpin pun masih diperdebatkan sedemikian rupa, sehingga komoditas politik dan agama yang sungguh sangat memuakkan. Padahal, beberapa banyak kaummu yang sampai sekarang telah menjadi pemimpin Negara di Finlandia, Pakistan, Filipina, Turki, Srilanka, Norwegia, Irlandia dna Negara kita sendiri. Dan apakah kamu pikir Clinton dan Keating bisa terpilih tanpa Hillary dan Dr. Anne Sammers? Mereka tidak pernah mendengar Mary Robinson, presiden terpilih Irlandia yang mengajak kaumnya, “Daripada mengayun-ayunkan tempat tidur bayi, lebih baik kita mengayun-ayunkan sistem ini”. Dalam catatan Inter Parliamentary Union, presentase anggota parlemen wanita di Indonesia termasuk yang terkecil (kurang dari 10%). Sedangkan yang paling banyak adalah Swedia (45%) dan Belanda (38%).

Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja membalik-balik majalah bisnis terkemuka. Di situ aku menemukan foto “temanmu”. Mereka sudah menjadi pemimpin atas para lelaki dan CEO di perusahaan “laki-laki”, seperti komputer dan otomotif. Sebenarnya tidak terlalu aneh, karena sebelumnya aku membaca Naisbitt yang tak henti-hentinya melakukan pengukuran kuantitatif atas keberhasilan kaumnya di pelbagai penjuru dunia. Coba deh baca lagi Megatrends for Woman atau Fire with Fire, the New Female Power and How It Will Change the 21st Century karya Naomi Wolf.

Ngomong-ngomong, apa yang kamu kerjakan sekarang? Meriaskah, berdandankah? Mudah-mudahan tidak selalu begitu. Lebih baik kamu belajar menulis. Aku juga baru belajar menulis kok. Mengapa? Karena, hal itu akan membuatmu senang pada Fatina Mernissi, sang feminis Islam yang menyatakan, “Menulis itu lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah.” (bisa anda lihat di Women’s Rebellion and Islamic Memory yang telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan)

Coba simak kata-katanya secara lengkap “Usahakan membaca dan menulis setiap hari. Niscaya kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun, menulis itu dapat menigkatkan aktifitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata anda akan lenyap, dan kulit anda akan terasa segar kembali menjelang tengah hari. Ia berada pada kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya, menulis dapat menguatkan struktur kulit ari anda. Pada akhir hari, kerut-kerut anda sudah memudar dan wajah anda pun menjadi lembut kembali”.

Aku sendiri baru saja selesai membaca buku yang menarik, “Woman Of The Street, Making It On Wall Street, The World’s Toughest Business”, karya Sue Herera, seorang wartawan CNBC. Kebetulan momennya bertepatan dengan ritual Woman’s Day, meskipun di sini tidak begitu terdengar gaungya. Buku itu bercerita tentang sisi lain dair Wall Street: The Toughest Business Battle In the World, yang ternyata diwarnai banyak sentuhan para wanita. Beberapa diantaranya sangat pantas untuk dikemukakan di sini.

Sebut saja Elaine Garzarelli, pendiri Garzarelli Investment Management, analis pertama yang dapat memprediksi akan terjadinya crash di pasar saham Amerika pada tahun 1987. Saat ini, setelah terinspirasi oleh terpilihnya Hillary Clinton menjadi senator, Ellaine memutuskan untuk meniggalkan firmanya yang megah untuk selanjutnya mau berkutat di kancah politik. Marry Ferrel, Managing Director Paine Webber, adalah salah satu super analis di Wall Street. Ia menjadi tempat bertanya bagi banyak analis muda, baik wanita maupun pria. Elizabeth Branwell, pendiri Branwell Capital Management yang percaya bahwa wanita memiliki sixth sense itu mejadi analis, terutama memadukan analsisis kuantitatif dan kualitatif.

Bridger Macaskill, president dan CEO Oppenheimer Funds (sebuah fund management terkemuka di Amerika) adalah seorang perempuan yang terselip di antara belantara industri keuangan. Dia seolah mengingatkan kita akan pentingnya fungsi pemasaran di dunia pasar modal. “most people don’t think of financial instruments of investments as ‘product’. They think of investing as a service provided to them by their brokers. But services, just like products, are bought by comsument who demand a certain bang for their buck”.

Mei Ping Yang, Vice President and Proprietary Trader, Goldman Sachs adalah wanita Asia berpenampilan kalem yang mendeklarasikan dirinya sebagai “pathologically shy”. Hal ini tentu sangat kontradikif dengan reputasinya sebagai trader instrument pasar uang internasional yang biasanya meledak-ledak, arogan dan tidak sabaran, seperti yang kita lihat di film-film seperti Wall Street dan The Boiler Room. Dengan total transaksi ½ miliar dolar, Mei Pang disegani di bidangnya.

Abby Joseph Cohen, Chairman Investment Policy Committee, Goldman Sachs. Dialah ekonom pasar modal yang besar di Federal Reserve (Fed). Di samping ekonom, Abby juga dikenal sebagai pendidik di bidangnya dan sangat antusias dengan program pendidikan untuk investor. “I believe theat the proper funcitioning of capital markets worldwide is going to depend on wether investors understand what they’re doing,” ujarnya. Mererka yang saat ini sedang getol mempersiapkan ujian CFA seharusnya berterimakasih kepadanya, sebab selama program CFA yang dipimpinnya, yang menjadi CFA holder meningkat pesat jumlahnya.

Muriel Siebert, The First Lady of Wall Street adalah wanita pertama yang punya seat di NYSE dan sering menjadi juru bicara wanita pasaar modal di berbagai media. Dan Bernadette Bartels Murphy adalah jawara technical analyst yang sentuhan grafis analissisnya mengenai pergerakan saham banyak diikuti oleh analis pria untuk melengkapi analisis fundamental yang telah dibuatnya.

Tajuk The Economist beberapa waktu lalu juga mengangkat regenerasi kepemimpinan London Stock Exchange yang sat ini dipimpin oleh seorang seorang wanita, Clara Furse, yang membangun karirnya di pasar modal melalui utak-atik instrument derivatif.

Nama-nama di atas mungkin tidak setenar Warren Buffet dan George Soros. Tetapi, bukankah media selama ini dikenal lebih mewakili opini dan interpretasi pria?

Di Negara kita ini pun cukup banyak nama yang pantas diperhitungkan. Para CEO perusahan sekuritas, seperti Miming Setyono, lim Christina Hariyanto dan Izakeeta Mahdi terbukti berhasil membawa perusahaan yang dipimpinnya menjadi maju, entah karena dapat menaikkan asset under management atau melakukan ekspansi besar-besaran. Mantan pemegang otoritas di Bursa Efek Jakarta, Felia Salim saat ini sangat getol mengkampanyekan pemberlakukan good corporate governance. Pantas disebut juga para Srikandi pasar modal lainnya, seperti Rizka Baely dan Devi Melayanti dari grup sekuritas asing besar. Analis-analis terkemuka lainnya juga bukan melulu para lelaki. Masih bisa disebut misalnya nama-nama, seperti Luciana Budiman, Lily Widjaja, Irma Stamboel, Linny Halim yang sempat terpilih menjadi The Best Analyst versi majalah keuangan terkemua Asia Money.

Mereka semua itu membuktikan bahwa peran wanita di pasar modal dan bidang-bidang lain sudah tidak bisa dipandang hanya dengan sebelah mata. Meskipun demikian, aku juga punya pertanyaan untukmu: Tidakkah kau lihat betapa garangnya gerakan feminisme saat ini? Apakah itu tidak berlebihan? Coba saja simak salah satu yang radikal, seperti Anne Koedt. “Bagi kami, kaum laki-laki harus dihindari, karena mereka terjangkiti penyakit virus patriarchal. Maka, berelasi dengan laki-laki sama saja dengan sleeping with the enemy. Karena itu, menjadi lesbian adalah solusi untuk menghindari obyektifikasi laki-laki.” Mengapa aku kadang merasa bahwa mayoritas perempuan itu jauh dari gerakan hak-hak perempuan seperti itu. Bisakah kau membantuku untuk menjawabnya, Kanya?

Masih banyak yang ingin kuceritakan… tapi waktu sudah terlalu larut…

Happy woman’s day

(www.satunet.com, 29 Maret 2001)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s