Klan

Posted: June 10, 2013 in umum
Tags: , ,

Clans

sudah lama saya mendengar tentang kata ini, terutama karena saya sering membaca komik naruto yang memang disitu kelompok keluarga / keturunan disebut klan. klan sendiri memang diartikan suku, marga atau kaum. dalam komik naruto, banyak terdapat klan yang memiliki kemampuan/ keahlian masing-masing dalam jutsu/ jurus ninja. dan klan yang paling kuat adalah klan senju dan uchiha. senju mempunyai kekuatan dari leluhurnya dari segi fisik sedangkan klan uchiha dari segi mata. oiya, mata mereka (klan uchiha) punya kekuatan sharingan yang dapat digunakan dalam pertarungan baik itu membuat ilusi ataupun lainnya.
tapi saya sebenarnya tidak ingin banyak membahas tentang cerita naruto. sejatinya, saya menuliskan ini karena tiba-tiba terinspirasi setelah sekilas menonton film Alice in Wonderland pada bagian Mad Hatter menyebutkan klannya dipekerjaan di kerajaan karena mempunyai keahlian membuat topi. dan selanjutnya teringat dengan naruto dengan banyak klannya. dan memang tidak ingin berbicara banyak tentang itu semua. saya hanya tertarik dengan “klan” yang biasanya berbeda satu sama lain dan mempunyai keahlian masing-masing yang juga unik. baik dari naruto ataupun Mad Hatter yang ada dalam dunia fiksi, saya malah memikirkan klan yang ada dalam kehidupan nyata. maksudnya adalah klan dengan kemampuan khusus tadi. I mean the real clan whom got skilled in some unique thing. saya berpikir keluarga saya dan/ atau lainnya punya kemampuan khusus dalam melakukan sesuatu atau misalnya punya keahlian dalam berdebat, sebagai mediator, ataupun keahlian fisik seperti menanam pohon dan sebagainya.
memang saya pernah mendengar berbagai cerita tentang orang-orang yang keluarga/ keturunannya mempunyai keahlian khusus dalam bidang tertentu. artinya, secara turun temurun keahlian tersebut diwariskan, sehingga dari kakek-kakeknya sampai dengan cucu-cicitnya ada saja yang punya keahlian tersebut. misalnya saja ada tetangga di rumah yang dulu kakeknya ahli dalam pijat-urut, sampai sekarang ada saja keturunannya yang punya keahlian tersebut. dan seringkali orang tersebut banyak dikenal karena orang tua mereka dulu dengan kalimat “oo.. kamu anak/ cucunya bapak A ya, pantas saja bisa pijat/urut”.
untuk keahlian yang diwariskan turun temurun ini, memang masih bisa dibilang masuk akal. karena seringkali anak punya minat yang sama dengan orang tuanya. seperti peribahasa menyebutkan “buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya”. biasanya anak melihat banyak apa yang dilakukan orang tuanya karena tiap hari ia bersama mereka. si anak dengan keinginannya sendiri mengikuti jejak orang tuanya. tapi itu kemungkinan pertama. kemungkinan kedua adalah bukan karena sukarela seperti yang telah disebutkan sebelum ini, melainkan karena paksaan. tidak sedikit orang tua yang memaksakan kehendak agar anak mereka mengikuti jejak untuk menguasai kehalian yang dimiliki. sering kita mendengar cerita anak yang melanjutkan kuliah kedokteran atau teknik atau lainnya, seperti halnya yang diambil oleh orang tuanya dulu karena melihat bahwa sang orang tua bisa sukses dalam karirnya dengan mengambil jurusan tersebut.
dua kemungkinan diatas saya sebut masuk akal, karena terjadi tanpa ada ‘keajaiban’ atau sisi lain yang kurang masuk akal. dan kemungkinan ketiga ini bisa dibilang berbeda dari dua sebelumnya. saya pernah mendengar cerita tentang keluarga yang turun menurun memiliki keahlian tertentu dan seolah sudah digariskan bahwa tangan milik keluarga tersebut cenderung punya keaahlian di bidang itu. sebagai contoh keahlian pijat-urut tadi, atau untuk yang lebih berat seperti kemampuan dalam membuat peralatan dari besi. dan keluarga-keluaga ini seolah punya darah keturunan dengan keahlian khusus tersebut. kadang ketika salah satu keturunan keluarga ini tidak tau tentang masa lalu keluarganya dulu, tapi ketika dia mempelajari kehalian khusus tersebut – karena keliatannya memang sudah dgariskan – ia cenderung dengan sangat sudah menguasainya. berbeda dengan orang lain yang sama-sama mempelajarinya tapi tidak punya darah keturunan dengan kemampuan yang sama. sebagai tambahan, si pewaris darah keturunan ini biasanya punya minat yang besar dari yang lain untuk menguasai keahlian tadi. sebagai contoh yang cukup dekat adalah dalam kisah Madre karangan Dewi Lestar (yang sekarang sudah difilmkan). disitu disebutkan bahwa sang tokoh utama cenderung gampang untuk membuat adonan roti mengunakan adonan biang “Madre” karena dulu orang tuanya memang ahli dalam hal tersebut. ia disebut “kau sama seperti Lakshmi ibumu, yang dengan mudah mengolah adonan tersebut. karena memang kau punya darah yang sama denga ibumu sehingga keahliannya pun sama”.
seperti inilah yang saya maksud dalam kaitannya dengan klan. para kaum-kaum/ keluarga-keluarga dengan kemampuan/ keahlian khusus. baik yang merupakan hasil belajar (seperti kemungkinan pertama dan kedua) ataupun yang memang dari warisan turun temurun dari leluhur mereka. keunikan yang dimiliki ini seolah jadi ‘senjata’ mereka. and I say, that was awesome! to have some unique power inside you and other people didn’t have it.
sekarang ini masih banyak di luar sana orang-orang yang punya bakat-bakat tertentu dan ada yang diturunkan namun ada yang tidak. yang jelas, yang harus saya yakini adalah bahwa Allah lah yang menentukan itu semua. karena Dia lah Yang Maha Kuasa. namun tidak menutup kemungkinan orang lain – yang tak berbakat – untuk mempelajari keahlian tertentu dan dia bisa menguasainya dengan baik. satu lagi yang perlu diyakini adalah bahwa itu semua jalan Allah untuk memberikan rizki kepada hambanya dan manusia sebagai hamba yang baik harus bersyukur dengan kemampuan yang ada.
Wallahu A’lam.
NB: sedikit melenceng dari pembahasan, tapi masih ada kaitannya dengan kemampuan/ keahlian khusus seseorang. ibu saya beberapa kali pernah bercerita tentang kakek saya dulu dengan apa yang dikerjakannya. Ibu menceritakan bahwa salah satu kakek saya jika menanam pohon cenderung berhasil, sedangkan anggota keluarga lain banyak berhasil dalam berdagang. disebutkan bahwa konon tangan mereka punya ‘arah’ tertentu untuk satu pekerjaan, dan tidak untuk pekerjaan lain. keluarga yang tidak berhasil dalam cocok tanam katanya tangan mereka cenderung “panas” sehingga jika memegang tanaman tidak berhasil. berbeda dengan kakek yang berhasil karena memang sudah digariskan bahwa tangannya cocok untuk bercocok tanam. namun, ketika kakek yang berhasil dalam cocok tanam ini mencoba pekerjaan lain – misalnya berdagang – dia malah kurang/ tidak berhasil.
saya kurang tau tentang hal ini. tapi cerita tersebut saya percaya, karena memang terbukti yang digariskan gampang berhasil dan hasilnya memuaskan tapi yang tiak malah sering gagal walaupun mencoba berkali-kali. yang saya yakini memang tentang rizki dari Allah yang memang sudah Dia yang sudah mengaturnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s