etalase

di dekat rumah saya ada sebuah minimarket di pojok pertigaan. minimarket tersebut menghadap ke arah jalan, dan sisi sebelah kirinya berhadapan langsung dengan jalan yang ada di sebelahnya. sebagai catatan, kedua sisi; kanan dan kiri ini langsung dilapisi oleh tembok. dan sisi sebelah kanan berbatasan dengan bangunan lain. sejak toko (sebut toko aja yak, capek klo nulis minimarket :D ) tersebut berdiri, memang sudah memiliki teras. dan teras yang tersedia adalah di depan dan sebelah kiri. bak semut yang melihat gula, ruang kosong di depan dan di sebelah kiri tersebut penuh oleh pedagang kaki lima.
tapi, sekarang ini ada yang berbeda dengan toko tersebut. para pedagang yang ada di sisi kiri toko tersebut mulai menghilang/ pindah ke tempat lain. selidik punya selidik, akhirnya saya tau, sisi kiri tersebut yang awalnya adalah tembok akan diganti dengan kaca. jika para pedagang masih disitu, tidak ada gunanya kaca yang dipasang.
seperti yang kita tau, kaca transparan berfungsi agar apa yang ada di dalam bisa terlihat dari luar. nah, disini kenapa saya memberikan catatan untuk sisi sebelah kiri. sisi kiri yang awalnya tertutup tembok dan pedagang2, ketika diganti dengan kaca, barang dagangan yang ada di dalam bisa terlihat. menurut saya ini keputusan yang cukup cerdik-walaupun sedikit menyakitkan bagi para pedagang yang bertempat disitu. inilah yang saya sebut “seperti menambah etalase baru”. dengan terlihatnya dagangan dari luar sisi kiri tersebut, akan dapat menambah minat pembeli ketika melewati toko tersebut, dan ingat, para (calon) pembeli itu tidak masuk ke dalam toko terlebih dahulu untuk melihat barang, tapi hanya dari luar. semakin sering melihat, para (calon) pembeli akan semakin tertarik untuk membeli.
tambahan, FYI; di seberang toko tersebut berdiri saingannya, sejatinya ini bisa jadi ‘senjata ampuh’ dalam persaingan menarik minat pembeli. dan toko ini bisa selangkah lebih maju dalam hal itu.
satu lagi ide cerdik. apakah kita juga punya? :D

*catatan: gambar hasil dari googling :)

pagi hari saya dihiasi sayup2 musik lenong betawi yang semakin mendekat dan semakin kencang terdengar. ya, musik lenong itu muncul hampir tiap pagi melewati komplek kantor saya. siapakah yang membunyikannya? jawabannya adalah mobil sampah. ya, mobil sampah yang lewat tersebut selalu memutar musik Lenong betawi dengan kencang hingga orang2 dan rumah2 yang dilewatinya pasti mendengar musik tersebut. mengapa musik lenong khas betawi? tentunya semua bisa menebak bahwa yang mengemudikan mobil tersebut pasti senang dengan lenong betawi, dan bisa jadi memang benar2 orang betawi.
sejujurnya saya senang dengan hal ini. saya tidak merasa risih ataupun terganggu dengan musik keras tersebut. pertama, karena memang saya senang mendengarkan musik, tidak terkecuali lenong ini. musiknya asik, khas daerah betawi, jadi mengingatkan musik khas daerah sendiri. kedua, dan ini yang penting, dengan memutar dan memperdengarkan musik tersebut, bapak petugas kebersihan tersebut secara tidak langsung ikut memasyarakatkan dan membudayakan musik ini. volume musik yang keras menjadikannya terdengar sepanjang jalan yang dilewati mobil tersebut. tidak yang tua dan yang muda semua bisa mendengar. terutama yang muda, mereka bisa menjadi mengenal tentang budaya betawi. bagi pemuda asli betawi, bisa membuat mereka lebih mencintai budayanya itu.
sekali lagi tindakan ini saya sukai dan dukung, karen memang termasuk dalam upaya pelestarian budaya, budaya yang sudah mulai tergilas oleh pesatnya pembangunan dan globalisasi. saya berharap budaya ini dan budaya lainnya dapat dipertahankan dan dilestarikan oleh kita semua. karena budaya menunjukkan jati diri kita.
Amin Ya Allah.. []
*sayup-sayup terdengar H. Benyamin Sueb menyanyi*

WOMAN OF THE STREET

Posted: May 22, 2011 in Uncategorized

dari http://on.fb.me/eXuepa

untuk para perempuan. atas nama kelembutan dan kegigihan…

agar mereka tetap tangguh dalam hidupnya, sebagai perempuan…

Adopted from “Secangkir Teh Hangat Pasar Modal” by Ubaidillah Nugraha

Untuk Kanya nun jauh disana…

Belakangan ini, aku merenungi lagi hubungan kita di masa lalu. Aku teringat sewaktu melepas kau pergi. Kenyataan yang tidak kita kehendaki. Namun, yang kuingat saat itu hanya Beniqno Aquino (Ninoy). Ia bicara lantang di depan pubnlik Boston, sebelum memutuskana ke Manila, sambil mempeprkenalkan Corry, begitu perempuan itu dipanggil, sebagai mitra terhormat dengan berkata “Anda tidak perlu meremukkan perempuan untuk membangun seorang laki-laki!” Ninoy akhirnya kita kenang dalam sejarah sebagai martir demokrasi Filipina. Dan, Cory, demi menuntut keadilan atas terbunuhnya sang suami muncul sebagai pemimpin bangsa Filipina dengan dukungan segenap masyarakat. “It’s better to light the candle than to curse the darkness,” jawab Cory atas pertanyaan wartawan BBC tentang perlu tidaknya dia menuntut rezim Marcos atas kematian sang suami. “Lebih baik saya melihat kedepan, memakmurkan bangsa ini, dan meninggalkan benih-benih dendam to forgive not to forget,” ujarnya lirih. Itulah perempuan. Sekali perempuan tetap perempuan, meskipun ia seorang presiden.

Begitulah Kanya. Aku hanya ingin agar kamu meraih impian yang masih tersimpan di dalam benakmu selama ini dan belum terwujud, untuk melihat dunia lain, dan kembali menjadi “wanita” yang sebenarnya, yaitu wanita yang menurut John Stuart Mill, menjadi subjek (subjection of woman). Disini, kaummu, masih seperti kata Mill, adalah budak, meskipun yang paling disayangi. Banyak ketidakadilan yang menimpanya. Ada Kartini yang diancam mati, padahal Kartini yang dulu itu justru diangap sebagai pembawa terang di dalam kegelapan yang melanda. Kasus pemerkosaan massal terjadi di depan mata. Setiap kali terjadi kekerasan, yang selalu menjadi korban.

Menjadi calon pemimpin pun masih diperdebatkan sedemikian rupa, sehingga komoditas politik dan agama yang sungguh sangat memuakkan. Padahal, beberapa banyak kaummu yang sampai sekarang telah menjadi pemimpin Negara di Finlandia, Pakistan, Filipina, Turki, Srilanka, Norwegia, Irlandia dna Negara kita sendiri. Dan apakah kamu pikir Clinton dan Keating bisa terpilih tanpa Hillary dan Dr. Anne Sammers? Mereka tidak pernah mendengar Mary Robinson, presiden terpilih Irlandia yang mengajak kaumnya, “Daripada mengayun-ayunkan tempat tidur bayi, lebih baik kita mengayun-ayunkan sistem ini”. Dalam catatan Inter Parliamentary Union, presentase anggota parlemen wanita di Indonesia termasuk yang terkecil (kurang dari 10%). Sedangkan yang paling banyak adalah Swedia (45%) dan Belanda (38%).

Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja membalik-balik majalah bisnis terkemuka. Di situ aku menemukan foto “temanmu”. Mereka sudah menjadi pemimpin atas para lelaki dan CEO di perusahaan “laki-laki”, seperti komputer dan otomotif. Sebenarnya tidak terlalu aneh, karena sebelumnya aku membaca Naisbitt yang tak henti-hentinya melakukan pengukuran kuantitatif atas keberhasilan kaumnya di pelbagai penjuru dunia. Coba deh baca lagi Megatrends for Woman atau Fire with Fire, the New Female Power and How It Will Change the 21st Century karya Naomi Wolf.

Ngomong-ngomong, apa yang kamu kerjakan sekarang? Meriaskah, berdandankah? Mudah-mudahan tidak selalu begitu. Lebih baik kamu belajar menulis. Aku juga baru belajar menulis kok. Mengapa? Karena, hal itu akan membuatmu senang pada Fatina Mernissi, sang feminis Islam yang menyatakan, “Menulis itu lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah.” (bisa anda lihat di Women’s Rebellion and Islamic Memory yang telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan)

Coba simak kata-katanya secara lengkap “Usahakan membaca dan menulis setiap hari. Niscaya kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun, menulis itu dapat menigkatkan aktifitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata anda akan lenyap, dan kulit anda akan terasa segar kembali menjelang tengah hari. Ia berada pada kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya, menulis dapat menguatkan struktur kulit ari anda. Pada akhir hari, kerut-kerut anda sudah memudar dan wajah anda pun menjadi lembut kembali”.

Aku sendiri baru saja selesai membaca buku yang menarik, “Woman Of The Street, Making It On Wall Street, The World’s Toughest Business”, karya Sue Herera, seorang wartawan CNBC. Kebetulan momennya bertepatan dengan ritual Woman’s Day, meskipun di sini tidak begitu terdengar gaungya. Buku itu bercerita tentang sisi lain dair Wall Street: The Toughest Business Battle In the World, yang ternyata diwarnai banyak sentuhan para wanita. Beberapa diantaranya sangat pantas untuk dikemukakan di sini.

Sebut saja Elaine Garzarelli, pendiri Garzarelli Investment Management, analis pertama yang dapat memprediksi akan terjadinya crash di pasar saham Amerika pada tahun 1987. Saat ini, setelah terinspirasi oleh terpilihnya Hillary Clinton menjadi senator, Ellaine memutuskan untuk meniggalkan firmanya yang megah untuk selanjutnya mau berkutat di kancah politik. Marry Ferrel, Managing Director Paine Webber, adalah salah satu super analis di Wall Street. Ia menjadi tempat bertanya bagi banyak analis muda, baik wanita maupun pria. Elizabeth Branwell, pendiri Branwell Capital Management yang percaya bahwa wanita memiliki sixth sense itu mejadi analis, terutama memadukan analsisis kuantitatif dan kualitatif.

Bridger Macaskill, president dan CEO Oppenheimer Funds (sebuah fund management terkemuka di Amerika) adalah seorang perempuan yang terselip di antara belantara industri keuangan. Dia seolah mengingatkan kita akan pentingnya fungsi pemasaran di dunia pasar modal. “most people don’t think of financial instruments of investments as ‘product’. They think of investing as a service provided to them by their brokers. But services, just like products, are bought by comsument who demand a certain bang for their buck”.

Mei Ping Yang, Vice President and Proprietary Trader, Goldman Sachs adalah wanita Asia berpenampilan kalem yang mendeklarasikan dirinya sebagai “pathologically shy”. Hal ini tentu sangat kontradikif dengan reputasinya sebagai trader instrument pasar uang internasional yang biasanya meledak-ledak, arogan dan tidak sabaran, seperti yang kita lihat di film-film seperti Wall Street dan The Boiler Room. Dengan total transaksi ½ miliar dolar, Mei Pang disegani di bidangnya.

Abby Joseph Cohen, Chairman Investment Policy Committee, Goldman Sachs. Dialah ekonom pasar modal yang besar di Federal Reserve (Fed). Di samping ekonom, Abby juga dikenal sebagai pendidik di bidangnya dan sangat antusias dengan program pendidikan untuk investor. “I believe theat the proper funcitioning of capital markets worldwide is going to depend on wether investors understand what they’re doing,” ujarnya. Mererka yang saat ini sedang getol mempersiapkan ujian CFA seharusnya berterimakasih kepadanya, sebab selama program CFA yang dipimpinnya, yang menjadi CFA holder meningkat pesat jumlahnya.

Muriel Siebert, The First Lady of Wall Street adalah wanita pertama yang punya seat di NYSE dan sering menjadi juru bicara wanita pasaar modal di berbagai media. Dan Bernadette Bartels Murphy adalah jawara technical analyst yang sentuhan grafis analissisnya mengenai pergerakan saham banyak diikuti oleh analis pria untuk melengkapi analisis fundamental yang telah dibuatnya.

Tajuk The Economist beberapa waktu lalu juga mengangkat regenerasi kepemimpinan London Stock Exchange yang sat ini dipimpin oleh seorang seorang wanita, Clara Furse, yang membangun karirnya di pasar modal melalui utak-atik instrument derivatif.

Nama-nama di atas mungkin tidak setenar Warren Buffet dan George Soros. Tetapi, bukankah media selama ini dikenal lebih mewakili opini dan interpretasi pria?

Di Negara kita ini pun cukup banyak nama yang pantas diperhitungkan. Para CEO perusahan sekuritas, seperti Miming Setyono, lim Christina Hariyanto dan Izakeeta Mahdi terbukti berhasil membawa perusahaan yang dipimpinnya menjadi maju, entah karena dapat menaikkan asset under management atau melakukan ekspansi besar-besaran. Mantan pemegang otoritas di Bursa Efek Jakarta, Felia Salim saat ini sangat getol mengkampanyekan pemberlakukan good corporate governance. Pantas disebut juga para Srikandi pasar modal lainnya, seperti Rizka Baely dan Devi Melayanti dari grup sekuritas asing besar. Analis-analis terkemuka lainnya juga bukan melulu para lelaki. Masih bisa disebut misalnya nama-nama, seperti Luciana Budiman, Lily Widjaja, Irma Stamboel, Linny Halim yang sempat terpilih menjadi The Best Analyst versi majalah keuangan terkemua Asia Money.

Mereka semua itu membuktikan bahwa peran wanita di pasar modal dan bidang-bidang lain sudah tidak bisa dipandang hanya dengan sebelah mata. Meskipun demikian, aku juga punya pertanyaan untukmu: Tidakkah kau lihat betapa garangnya gerakan feminisme saat ini? Apakah itu tidak berlebihan? Coba saja simak salah satu yang radikal, seperti Anne Koedt. “Bagi kami, kaum laki-laki harus dihindari, karena mereka terjangkiti penyakit virus patriarchal. Maka, berelasi dengan laki-laki sama saja dengan sleeping with the enemy. Karena itu, menjadi lesbian adalah solusi untuk menghindari obyektifikasi laki-laki.” Mengapa aku kadang merasa bahwa mayoritas perempuan itu jauh dari gerakan hak-hak perempuan seperti itu. Bisakah kau membantuku untuk menjawabnya, Kanya?

Masih banyak yang ingin kuceritakan… tapi waktu sudah terlalu larut…

Happy woman’s day

(www.satunet.com, 29 Maret 2001)

Upin Ipin

menyambung kepada tulisan saya sebelumnya, setidaknya ada beberapa kata dalam Bahasa Indonesia yang acapkali mendapat stigma negatif ketika diucapkan. contohnya senonoh. kata lainnya yaitu Seronok. (maaf, mungkin stigma negatif hanya dari saya pribadi :) ).  saya berpendapat demikian karena dari pandangan saya orang2 Indonesia (sekarang) kurang mengetahui arti sebenarnya dari kata seronok tersebut. Jika kita lihat arti kata itu di KBBI :

se·ro·nok a menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb): dl dunia keronggengan ini suara pesinden itu sama-sama — dan menarik hati;
me·nye·ro·nok·kan v menimbulkan rasa seronok;
ke·se·ro·nok·an n perihal (yg bersifat) seronok

keprihatinan ini diiringi dengan keprihatinan lain yaitu Read the rest of this entry »

 

Bagi teman2 saya, pasti sudah mengenal apa itu Maktabah Syamilah. Sebuah perangkat lunak yang bagaikan perpustakaan di komputer sendiri. Maktabah syamilah merupakan software yang memiliki library berisi ratusan kitab2 dan referensi berbentuk buku/ kitab berbahasa arab. Sebenarnya Maktabah Syamilah sendiri sudah memiliki berbagai versi, yang terbaru memiliki library dengan kapasitas 20Gigabyte lebih. Namun sekarang saya ingin membahas tentang Maktabah Syamilah 1 yang berhubungan (dalam hal ini berkontradiksi) dengan Antivirus Avira (atau ada juga yg menyebutnya Antivir).

Ketika kita menginstal Maktabah Syamilah 1 di komputer, file eksekusi untuk membukanya adalah Library.exe (terlihat seperti gambar di bawah ini)

Library Syamilah

Permasalahan disini adalah, Avira Antivirus menganggap file eksekusi ini sebagai threat/ ancaman untuk komputer, sehingga secara otomatis sang antivirus bereaksi untuk menghilangkannya. Padahal itu merupakan “pintu utama” untuk membuka Maktabah Syamilah1. Read the rest of this entry »

Senonoh

Posted: February 22, 2011 in Bahasa
Tags: , , ,
ketika mendengar kata “senonoh” orang2 pasti langsung terpikir kepada gabungan kata tersebut dalam bentuk negatif, “tidak senonoh”. dan arti yang langsung terpikir adalah arti yang berkonotasi negatif, “tidak patut” , “tidak sopan” dan sebagainya. sebagai contoh: Karena melakukan perbuatan yang tidak senonoh, wanita itu sekarang sering digunjingkan orang.

bagi pribadi saya, ini memang memprihatinkan. karena kata “senonoh” tersebut sekarang (selalu) berkonotasi negatif jika diucapkan atau dituliskan. padahal arti negatif tersebut muncul karena memang diberikan tambahan negatif sebelum kata tersebut.

dari pencarian saya di kamus bahasa Indonesiaarti kata “tidak senonoh” adalah:

tidak senonoh

adj tidak patut atau tidak sopan (tentang perkataan, perbuatan, dsb); tidak menentu atau tidak manis dipandang (pakaian dsb);

dari arti di atas, terlihat bahwa jika kita kembalikan kepada kata dasar/ tanpa kata tidak, kata tersebut secara trivial pasti memberikan arti yang baik; patut, sopan. tapi karena seringkali pengucapan kata ini diikuti oleh kata tidak, stigma arti negatif pun selalu muncul. inilah yang membuat saya miris. mungkinkan kata ini mengalami peyorasi/ penurunan (derajat) makna? saya juga belum bisa memutuskan demikian.

harapan saya semoga stigma negatif yg muncul tiap kata itu muncul tidak menular pada lestarinya bahasa Indonesia. amin

Surat Untuk FIrman (Repost)

Posted: December 29, 2010 in Uncategorized

Sumber : http://itonesia.com/surat-untuk-firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Read the rest of this entry »